Louis L’Amour (via amandaonwriting)
write write write read read read read
(via alfaza)
Tampaknya, mudah tidaknya pemahaman akan suatu kalimat bukan terletak pada sulit atau rumit tidaknya kalimat tersebut. Terkadang, kalimat sederhana pun menjadi terlalu sulit untuk dipahami –dan karenanya sulit pula untuk dilaksanakan.
Ini banyak tercecer dalam kehidupan keseharian kita. Banyak beredar di sekitar kita. Coba kita tengok satu contoh realitas dalam suatu bus kota; ketika sang kondektur berteriak kepada para penumpangnya, “Pak, tolong semuanya geser ke bagian tengah ya.” Perhatikan. Adakah yang sulit dipahami dari kata tersebut? Tapi lihatlah, bagaimana respon yang muncul dari para penumpang disana. Kebanyakan dari mereka tetap bergeming diam di tempatnya, tak bergeser barang sedikit. Hanya satu-dua penumpang yang dengan berat hati berpindah ke bagian tengah bus.
Itu baru satu contoh.
Kita bisa lihat contoh lainnya misalnya, saat akan dilaksanakannya sholat berjamaah. Sebelum sholat, sang imam berkata, “Rapatkan dan luruskan shaf.”. Tapi lihatlah apa yang terjadi. Shaf tetap tak beraturan; bengkok; renggang. Padahal, adakah yang rumit dari kata-kata sang imam tadi?
Itu baru kalimat-kalimat yang terlontar dari seorang makhluk hidup –yang berbicara secara langsung– Masih banyak kalimat dan pesan lainnya yang ‘terlontar’ dari sebuah benda mati, seperti papan yang bertuliskan “Jangan merokok”, dimana kita tak perlu memiliki kemampuan menafsirkan tersendiri untuk dapat memahami kalimat tersebut. Tapi tetap saja, kalimat itu –sebagaimana kalimat lainnya– terasa berat untuk sepenuhnya dipahami dan untuk kemudian berat untuk dilaksanakan. See. Masih banyak yang merokok.
Dalam sebuah hadits qudsi:
“Barang siapa memerangi kekasih-Ku, maka Aku mengizinkan untuk memeranginya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku akan senantiasa bertaqarub kepada-Ku dengan melakukan nawafil (ibadah-ibadah sunnah), sampai Aku mencintainya. Dan apabila Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya yang dipakainya untuk mendengar, menjadi matanya yang dipakai untuk melihat, menjadi tangannya yang dipakai untuk memukul, dan kakinya yang dipakai untuk berjalan. Jika ia meminta-Ku, Aku pasti mengabulkannya, jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang akan Kulakukan seperti keraguan-Ku mencabut nyawa hamba-Ku mukmin yang tidak suka kematian, sedangkan Aku tidak suka menyakitinya.” (HR. Bukhari)
Haris Shafix - Keimanan
Ya, seperti yang sudah tertulis di atas. Nama saya Afifah. Dengan huruf F.
Dulu, saat baru berkenalan dengan seseorang, saya terbiasa memperkenalkan nama saya dengan Afifah. Lalu lambat laun, perlahan, mereka mengaku kesulitan untuk terus menerus memanggil saya dengan nama Afifah. “Banyak huruf F-nya”, katanya.
Itu dulu saat saya tinggal di Bekasi; yang notabene memang banyak orang-orang Betawi yang mungkin mereka sedikit kesulitan melafalkan F. Saat di Bekasi itu (sejak SD hingga SMA) saya jadi terbiasa dipanggil dengan panggilan Pipeh.
Tak apa-apa. Yang penting saya nyaman.
Tapi semakin lama, entah mengapa semakin banyak orang yang betul-betul kesulitan memanggil nama saya dengan nama saya yang sesungguhnya: Afifah; dengan F.
Kamu tahu nggak?
Suara hati yang kita rasakan dan kita punyai, pada dasarnya akan sama dengan yang dirasakan dan dipunyai oleh seluruh orang di dunia. Bagaimanapun dan apapun orangnya: kaya, miskin, penganut agama apapun, suku apapun, ras apapun.
Tapi..
Adakalanya suara hati itu tertutup atau bahkan buta.
Sering sekali kita mengabaikan suara hati, hingga pada akhirnya membuat diri kita sendiri terjerumus pada kerusakan, ketidakteraturan, ketidakseimbangan.
Kamu tahu penyebabnya?
Banyak.
Dan salah satu dari sekian banyak faktor yang menutupi suara hati adalah adanya faktor belenggu pengalaman
Ini ada cerita sedikit.